Tampilkan postingan dengan label Askep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep. Tampilkan semua postingan

Senin, April 08, 2013

0 ASKEP CA LARING


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
 
Image

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                                       
  1. I.          LATAR BELAKANG
Kanker laring adalah keganasan pada laring. Kanker laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan pada orang laki-laki. Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk, logam berat.
Kanker laring dapat menyebabkan kematian. Kematian dapat terjadi tergantung stadium dan lokasinya. Pengangkatan kanker laring stadium IV membuat pasien bisa bertahan sampai 10 tahun, tetapi kalau sudah menyebar ke organ tubuh lain bisa menyebabkan kematian sebelum 10 tahun.
Menurut Meyer terdapat 12.000 kasus karsinoma laring setiap tahun di Amerika dan lebih dari 50% berasal dari pita suara, tetapi di Finlandia dan beberapa negara Eropa 2/3 bagian dari karsinoma laring merupakan karsinoma supraglotis sedang 113 bagiannya dari glotis. Bailey mendapatkan 75% dari karsinoma laring berasal dari pita suara. Di Indonesia, tumor laring di pita suara mencapai satu persen dari semua keganasan.
Di SMF THT RSUD Dr. Suetomo kami mendapatkan sebanyak 153 panderita (1991- 1995) dan 77 penderita (2000-2001). Sedangkan menurut laporan dari Bambang dkk. di Semarang (1972-1976), Empu dkk. diBandung (1975-1978), Sigit di Jakarta (1967-1979) dan Abdurrachman di Jakarta (1980-1984) masing-masing mendapatkan kasus sebanyak 69,35,162 dan 118.
(Robinson,2007) Kasus Ca Laring banyak terdapat di Indonesia dan juga dapat menyebabkan kematian, hal tersebutlah yang membuat penulis ingin mengangkat masalah tentang Ca laring dalam makalah ini yang akan dibahas dalam Bab – Bab berikut.L


  1. II.       TUJUAN
  • Tujuan Umum
Mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan keperawatan secara komprehensif terhadap klien tonsillitis ini
  • Tujuan Khusus
Setelah melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan bronchitis kronis. Maka mahasiswa/i diharapkan mampu :
  1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  5. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan tonsillitis

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

  1. I.             DEFENISI
Laring adalah organ suara yang terletak dibawah dan depan pharynx, serta ujung procsimal trachea.
Carcinoma adalah pertumbuhan ganas yang berasal dari sel epitel atau pertumbuhan jaringan yang abnormal (Kamus Keperawatan Edisi 17 Sre Itichlitt)
Ca. laring adalah adanya pertumbuhan ganas dijaringan epitel yang menggangu jaringan suara yang terletak diantara larynx atau di ujung prixsimal trachea. (Kamus Kedokteran . Dr. Heidra T. Kaksman)
Tracheostomy adalah fenetrasi (pembuatan lubang ) pada dinding anterior trachea dengan mengangkat kartilago dari cincin traghea katiga dan keempat sehingga terbentuk saluran nafas yang aman dengan bantuan pipe trakeostomi (Kamus Keparawatan, Edisi 17 Sre Itichlitt hal 440)
Ca. laring merupakan tumor yang ketiga menurut jumlah tumor ganas dibidang THT dan lebih bannyak terjadi pada pria berusia 50-70 tahun. Yang sering adalah jenis karsinoma sel skuamosa. (Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Hal : 136)
Karsinoma laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara ( laring ) atau daerah lain di tenggorokan. (K.D Jayanto, 2008)
Karsinoma laring adalah keganasan pada laring yang meliputi bagian supraglotik, glotis, dan subglotis. (Suddart and Brunner)
Jadi dapat disimpulkan bahwa karsinoma laring adalah suatu keganasan yang menyerang bagian leher tepatnya pada kotak suara (laring).

  1. II.          ETIOLOGI
    1. Belum diketahui pasti
    2. Faktor predisposisi merokok, alcohol, dan paparan sinar radio aktif (Kapita Selelcta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, hal : 136)
    3. Seseorang yang mengalami kanker dikepala dan dileher sering kali adalah seseorang yang menggunakan alcohol dan tembakau sebelum pembedahan. ( Buku Ajar. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2 hal. 1015)

  1. III.       PATOFISIOLOGI
Karsinoma laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan pada orang laki-laki.Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk, logam berat. Bagaimana terjadinya belum diketahui secara pasti oleh para ahli.
Kanker kepala dan leher menyebabkan 5,5% dari semua penyakit keganasan.Terutama neoplasma laringeal 95% adalah karsinoma sel skuamosa.
Bila kanker terbatas pada pita suara (intrinsik) menyebar dengan lambat.Pita suara miskin akan pembuluh limfe sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar limfe.Bila kanker melibatkan epiglotis (ekstrinsik) metastase lebih umum terjadi.
Tumor supraglotis dan subglotis harus cukup besar, sebelum mengenai pita suara sehingga mengakibatkan suara serak.Tumor pita suara yang sejati terjadi lebih dini biasanya pada waktu pita suara masih dapat digerakan

  1. IV.       MANIFESTASI KLINIS
  • Nyeri tenggorok
  • Sulit menelan
  • Suara Serak
  • Hemoptisis dan batuk
  • Sesak nafas
  • Berat Badan turun

  1. V.          KLASIFIKASI
  • Ø Tumor Ganas Laring
  1. Glotis
Tis Karsinoma insitu
1.      T1 Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura anterior atau posterior.
2.      T2 Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility).
3.      T3 Tumor meliputi laring dan pira suara sudah terfiksir.
4.      T4 Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari laring.
  b.      Subglotis
        Tis karsinoma insitu
1.      T1 Tumor terbatas pada daerah subglotis
2.      T2 Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir.
3.      T3 Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
4.      T4 Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau dua-duanya.
c.       Metastasis Jauh (M)
1.      Mx Tidak terdapat/ terdeteksi
2.      M0 Tidak ada metastasis jauh
3.      M1 Terdapat metastasis jauh.
  • Stadium
  1. ST1 T1 N0 M0
Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura anterior atau posterior. Tumor terbatas pada daerah subglotis. Tidak ada metastasis jauh
  1. ST II T2 N0 M0
Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility). Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir. Tidak ada metastasis jauh
  1. STIII T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
Tumor meliputi laring dan pira suara sudah terfiksir. Tidak ada metastasis jauh
  1. STIV T4 N0/N1 M0
         Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari laring. Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau dua-duanya.
  1. T1/T2/T3/T4 N2/N3
  2. T1/T2/T3/T4 N1/N2/N3 M1

  1. VI.       KOMPLIKASI
Berdasarkan pada data pengkajian. potensial komplikasi yang mungkin terjadi termasuk:
1. Distres pernapasan (hipoksia, obstruksi jalan napas, edema trakea)
2. Hemoragi
3. Infeksi

  1. VII.    PENATALAKSANAAN
Pada kasus karsinoma laring dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi dan pengangkatan laring (Laringektomi).
Pengobatan dipilih berdasar stadiumnya.Radiasi diberikan pada stadium 1 dan 4. Alasannya mempunyai keuntungan dapat mempertahankan suara yang normal, tetapi jarang dapat menyembuhkan tumor yang sudah lanjut,lebih-lebih jika sudah terdapat pembesaran kelenjar leher.
Oleh karena itu radioterapi sebaiknya dipergunakan untuk penderita dengan lesi yang kecil saja tanpa pembesaran kelenjar leher. Kasus yang ideal adalah pada tumor yang terbatas pada satu pita suara, dan masih mudah digerakkan. Sembilan dari sepuluh penderita dengan keadaan yang demikian dapat sembuh sempurna dengan radioterapi serta dapat dipertahankannya suara yang normal.
Fiksasi pita suara menunjukkan penyebaran sudah mencapai lapisan otot. Jika tumor belum menyebar kedaerah supraglotik atau subglotik, lesi ini masih dapat diobati dengan radioterapi, tetapi dengan prognosis yang lebih buruk.
Penderita dengan tumor laring yang besar disertai dengan pembesaran kelenjar limfe leher, pengobatan terbaik adalah laringektomi total dan diseksi radikal kelenjar leher.Dalam hal ini masuk stadium 2 dan 3. Ini dilakukan pada jenis tumor supra dan subglotik.Pada penderita ini kemungkinan sembuh tidak begitu besar, hanya satu diantara tiga penderita akan sembuh sempurna.
Laringektomi diklasifikasikan kedalam :
  1. Laringektomi parsial. Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita suara dan trakeotomi sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan napas. Setelah sembuh dari pembedahan suara pasien akan parau.
  2. Hemilaringektomi atau vertikal. Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita suara satu benar dan satu salah.Bagian ini diangkat sepanjang kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid.Trakeostomi sementara dilakukan dan suara pasien akan parau setelah pembedahan.
  3. Laringektomi supraglotis atau horisontal. Bila tumor berada pada epiglotis atau pita suara yang salah, dilakukan diseksi leher radikal dan trakeotomi. Suara pasien masih utuh atau tetap normal.Karena epiglotis diangkat maka resiko aspirasi akibat makanan peroral meningkat.
  4. Laringektomi total. Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring, memerlukan pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid,2-3 cincin trakea, dan otot penghubung ke laring.Mengakibatkan kehilangan suara dan sebuah lubang ( stoma ) trakeostomi yang permanen. Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi makanan peroral, dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara – pencernaan.Suatu sayatan radikal telah dilakukan dileher pada jenis laringektomi ini.
Hal ini meliputi pengangkatan pembuluh limfatik, kelenjar limfe di leher, otot sternokleidomastoideus, vena jugularis interna, saraf spinal asesorius, kelenjar salifa submandibular dan sebagian kecil kelenjar parotis (Sawyer, 1990).
Operasi ini akan membuat penderita tidak dapat bersuara atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian dapat diatasi dengan mengajarkan pada mereka berbicara menggunakan esofagus (Esofageal speech), meskipun kualitasnya tidak sebaik bila penderita berbicara dengan menggunakan organ laring.Untuk latihan berbicara dengan esofagus perlu bantuan seorang binawicara.


BAB II
ASKEP TEORITIS

  1. I.             PENGKAJIAN
  2. Identitas Diri
Identitas yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, kepercayaan, status pendidikan dan pekerjaan klien.
  1.  Identitas Penaggung jawab
Identitas yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, kepercayaan, status pendidikan dan pekerjaan penanggung jawab dan hubungan dengan klien.
  1. Keluhan Utama
Keluhan utama pada klien ca. Laring meliputi nyeri tenggorok. sulit menelan,sulit bernapas,suara serak,hemoptisis dan batuk ,penurunan berat badan, nyeri tenggorok, lemah.
  1. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya suara serak adalah hal yang akan Nampak pada pasien dengan kanker pada daerah glottis, pasien mungkin mengeluhkan nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan, suatu gumpalan mungkin teraba di belakang leher. Gejala lanjut meiputi disfagia, dispnoe, penurunan berat badan.
  1. Riwayat Penyakit Dahulu
    1. Tanyakan apakah klien pernah mengalami infeksi kronis
    2. Tanyakan pola hidup klien (merokok, minum alkohol)
    3.  Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan pada klien apakah ada keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama. Atau adakah keluarga yang meninggal akibat penyakit ini

Pemeriksaan Fisik
  1. System pencernaan
Adanya Kesulitan menelan.
Tanda : Kesulitan menelan, mudah tersedak, sakit menelan, sakit tenggorok yang menetap.Bengkak, luka. Inflamasi atau drainase oral, kebersihan gigi buruk. Pembengkakan lidah dan gangguan reflek.
  1. Neurosensori
Gejala : Diplopia (penglihatan ganda), ketulian.
Tanda : Hemiparesis wajah (keterlibatan parotid dan submandibular). Parau menetap atau kehilangan suara (gejala dominan dan dini kanker laring intrinsik). Kesulitan menelan. Kerusakan membran mukosa
  1. System  Pernapasan
    1. Adanya benjolan di leher
    2. Asimetri leher
    3. Nyeri tekan pada leher
    4. Adanya pembesaran kelenjar limfe
    5. Dipsnoe
    6. sakit tenggorokan
    7. suara tidak ada

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Laringoskop
Untuk menilai lokasi tumor, penyebaran tumor.
  1. Foto thoraks
Untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis di paru.
  1. CT-Scan
Memperlihatkan keadaan tumor/penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening leher.
  1. Biopsi laring
Untuk pemeriksaan patologi anatomik dan dari hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa




  1. II.          DIAGNOSA
    1. 1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
    2. 2.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).
    3. 3.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor
    4. 4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan.(disfagia)
    5. 5.      Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.





  1. III.             INTERVENSI
Dx 1 : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
Tujuan : Klien akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
Kriteria hasil : Bunyi napas bersih dan jelas, tidak sesak, tidak sianosis,frekwensi napas normal.
INTERVENSI
RASIONAL
a.       Awasi frekwensi atau kedalaman pernapasan. Auskultasi bunyi napas. Selidiki kegelisahan, dispnea, dan sianosis.
b.      Tinggikan kepala 30-45 derajat
c.       Dorong menelan bila pasien mampu.

d.      Berikan humidifikasi tambahan, contoh tekanan udara atau oksigen dan peningkatan masukan cairan.


e.       Awasi seri GDA atau nadi oksimetri, foto dada.
a.       perubahan pada pernapasan, adanya ronki,mengi,diduga adanya retensi sekret.
b.      memudahkan drainase sekret, kerja pernapasan dan ekspansi paru.
c.       mencegah pengumpulan sekret oral menurunkan resiko aspirasi. Catatan : menelan terganggu bila epiglotis diangkat atau edema paskaoperasi bermakna dan nyeri terjadi.
d.      fisiologi normal ( hidung) berarti menyaring atau melembabkan udara yang lewat.Tambahan kelembaban menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan batuk atau penghisapan sekret melalui stoma.
e.       pengumpulan sekret atau adanya ateletaksis dapat menimbulkan pneumonia yang memerlukan tindakan terapi lebih agresif.

Dx 2 : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara) dan hambatan fisik (selang trakeostomi).
Tujuan : Komunikasi klien akan efektif .
Kriteria hasil : Mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode berbicara yang tepat setelah sembuh
INTERVENSI
RASIONAL
a.       Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan bernapas terganggu,gunakan gambaran anatomik atau model untuk membantu penjelasan.
b.      Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain seperti pendengaran dan penglihatan
c.       Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien misalnya papan dan pensil, papan alfabet atau gambar, dan bahasa isyarat.

d.      Konsul dengan anggota tim kesehatan yang tepat atau terapis atau agen rehabilitasi (contoh patologis wicara, pelayanan sosial, kelompok laringektomi) selama rehabilitasi dasar dirumah sakit sesuai sumber komunikasi (bila ada).
a.       untuk mengurangi rasa takut pada klien.



b.      adanya masalah lain mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi.


c.       memungkingkan pasien untuk menyatakan kebutuhan atau masalah. Catatan : posisi IV pada tangan atau pergelangan dapat membatasi kemampuan untuk menulis atau membuat tanda.
d.      Kemampuan untuk menggunakan pilihan suara dan metode bicara (contoh bicara esofageal) sangat bervariasi, tergantung pada luasnya prosedur pembedahan, usia pasien, dan motivasi untuk kembali ke hidup aktif. Waktu rehabilitasi memerlukan waktu panjang dan memerlukan sumber dukungan untuk proses belajar.

Dx 3 : Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, pembengkakan jaringan,adanya selang nasogastrik atau orogastrik.
Tujuan : Nyeri klien akan berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : Klien mengatakan nyeri hilang, tidak gelisah, rileks dan ekpresi wajah ceria
INTERVENSI
RASIONAL
a.       Sokong kepala dan leher dengan bantal.Tunjukkan pada pasienbagaimana menyokong leher selama aktivitas.



b.      Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut dengan hati-hati bila tidak mampu menelan
c.       Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri. Evaluasi efek analgesik.
d.      Kolaborasi dengan pemberian analgesik, contoh codein, ASA, dan Darvon sesuai indikasi.
a.       kelemahan otot diakibatkan oleh reseksi otot dan saraf pada struktur leher dan atau bahu. Kurang sokongan meningkatkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan cedera pada area jahitan.
b.      menelan menyebabkan aktivitas otot yang dapat menimbulkan nyeri karena edema atau regangan jahitan.
c.       alat menentukan adanya nyeri dan keefektifan obat

d.      derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi tubuh.Diharapkan dapat menurunkan atau menghilangkan nyeri.

Dx 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan jenis masukan makanan sementara atau permanen, gangguan mekanisme umpan balik keinginan makan, rasa, dan bau karena perubahan pembedahan atau struktur, radiasi atau kemoterapi.
Tujuan : Klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
Kriteria hasil : Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu, menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau insisi sesuai waktunya
INTERVENSI
RASIONAL
a.       Auskultasi bunyi usus

b.      Pertahankan selang makan, contoh periksa letak selang : dengan mendorongkan air hangat sesuai indikasi


c.       Ajarkan pasien atau orang terdekat teknik makan sendiri, contoh ujung spuit, kantong dan metode corong, menghancurkan makanan bila pasien akan pulang dengan selang makanan. Yakinkan pasien dan orang terdekat mampu melakukan prosedur ini sebelum pulang dan bahwa makanan tepat dan alat tersedia di rumah
d.      Berikan diet nutrisi seimbang (misalnya semikental atau makanan halus) atau makanan selang (contoh makanan dihancurkan atau sediaan yang dijual) sesuai indikasi.
a.       makan dimulai hanya setelah bunyi usus membik setelah operasi.
b.      selang dimasukan pada pembedahan dan biasanya dijahit.Awalnya selang digabungkan dengan penghisap untuk menurunkan mual dan muntah. Dorongan air untuk mempertahankan kepatenan selang.
c.       membantu meningkatkan keberhasilan nutrisi dan mempertahankan martabat orang dewasa yang saat ini terpaksa tergantung pada orang lain untuk kebutuhan sangat mendasar pada penyediaan makanan.



d.      macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau batasan faktor tertentu, seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang disediakan pasien

Dx 5 : Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher
Tujuan : Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada diri sendiri
Kriteria hasil : menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai bukti dengan partisipasi aktivitas perawatan diri dan interaksi positip dengan orang lain.Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang perubahan peran yang telah terjadi.Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup. Berpartisipasi dalam tim sebagai upaya melaksanakan rehabilitasi
INTERVENSI
RASIONAL
a.       Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien, identifikasi persepsi situasi atau harapan yang akan dating
b.      Catat bahasa tubuh non verbal, perilaku negatif atau bicara sendiri. Kaji pengrusakan diri atau perilaku bunuh diri
c.       Catat reaksi emosi, contoh kehilangan, depresi, marah




d.      Kolaboratif dengan merujuk pasien atau orang terdekat ke sumber pendukung, contoh ahli terapi psikologis, pekerja sosial, konseling keluarga.
a.       alat dalam mengidentifikasi atau mengartikan masalah untuk memfokuskan perhatian dan intervensi secara konstruktif
b.      dapat menunjukkan depresi atau keputusasaan, kebutuhan untuk pengkajian lanjut atau intervensi lebih intensif
c.       pasien dapat mengalami depresi cepat setelah pembedahan atau reaksi syok dan menyangkal. Penerimaan perubahan tidak dapat dipaksakan dan proses kehilangan membutuhkan waktu untuk membaik
d.      pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membantu pasien menghadapi rehabilitasi dan kesehatan. Keluarga memerlukan bantuan dalam pemahaman proses yang pasien lalui dan membantu mereka dalam emosi mereka. Tujuannya adalah memampukan mereka untuk melawan kecendrungan untuk menolak dari atau isolasi pasien dari kontak sosial.






BAB IV
PENUTUP

  1. I.       KESIMPULAN
Kanker merupakan massa jaringan abnormal tumbuh terus menerus, tidak pernah mati. Tumbuh dan tidak terkoordinasi dengan jaringan lain, akibatnya merugikan tubuh dimana ia tumbuh. Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah lainnya di tenggorokan.
Penyebab utama dari kanker laring tidak diketahui. Kanker laring mewakili 1% dari semua kanker dan terjadi lebih sering pada pria, faktor-faktor penyebabnya adalah Tembakau, Alkohol dan efek kombinasinya, Ketegangan vocal, Laringitis kronis, Pemajanan industrial terhadap karsinogen, Defisiensi nutrisi (riboflavin) dan, Predisposisi keluarga

  1. II.    SARAN
  2. Untuk Instansi
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan

  1. Untuk Klien dan Keluarga
Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai.



DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddart. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC
Erfansah . (2010). Asuhan Keperawatan Kanker Laring.blogspot.com
Kepacitan. 2010. Askep Kanker Laring.

Minggu, April 07, 2013

0 Askep Lower Back Pain


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!
LOW BACK PAIN DAN ASUHAN KEPERAWATANNYA

A. Tinjauan Teoritis Low Back Pain
1. Pengertian
Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbasakral dan sakroiliakal, nyeri pinggang bawah ini sering disertai penjalaran ketungkai sampai kaki. (Harsono, 2000:265).

Herniasi diskus (carram) intervertebralis (HNP) merupakan penyebab utama nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh), mungkin sebagai dampak trauma atau perubahan degeneratif yang berhubungan dengan proses penuaan. (Doenges, Marylinn, 1999:320).

Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang dirasakan didaerah punggung bawah, dapat merupakan nyeri local maupun radikuler atau keduanya, nyeri ini terasa diantara sudut rusuk terbawah (torakal XII) dan lipat bokong bawah yaitu didaerah lumbal dan lumbasakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri kearah tungkai dan kaki.

Low back pain nyeri punggung bawah adalah salah satu nyeri yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, juga merupakan persoalan mayarakat karena sering mengakibatkan penderita tidak dapat bekerja dalam kesehariannya.

Low back pain dapat berupa rasa kemeng atau sedikit pegal sampai nyeri sekali, sakit ini dapat timbul secara mendadak ataupun secara perlahan-lahan dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari.  Rasa sakit dapat dirasakan pada tubuh bagian belakang, dari tulang iga terakhir sampai bagian bawah bokong dan juga dapat menjalar ketungkai.  Sering kali penderita cemas kalau LBPnya berasal dari penyakit ginjal atau kencing batu anggapan itu tidaklah selalu benar.

Jika diperhatikan secara seksama keluhan LBP sangat bervariasi, kualitas nyeri, intensitas serta penyebarannya sangat bervariasi, berbagai sikap badan seperti berdiri, duduk atau berbaring sangat berpengaruh terhadap timbulnya rasa nyeri.

2. Etiologi
Pembagian etiologi berdasarkan sistem anatomi :
a. LBP Viserogenik (organ abdomen)
Kelainan berasal dari ginjal, viscera pelvis, omentum minor, tumor retroperitoneal, fibroid retrouteri
b. LBP Verkulogenik (pembuluh darah)
Aneurisme diabdomen, penyakit vaskuler perifes, insufiensi dari arteri glutea superior
c. LBP Neuvogenik
Tumor-tumor letaknya ekstradural maupun intradural ekstra medullar sering menyebabkan LBP oleh karena juga menekan radik.
d. LBP Spondilogenik
Berasal dari :
1) Tulang koluma spinalis (trauma, radang, tumor, metabolic dan spondilolistesis)
2) Sendi-sendir sakroiliakan
3) Jaringan lunak (degenerasi diskus, aptur diskus, penjepitan akar saraf akibat stenosis spinalis.
e. LBP Psikogenik
Dapat disebabkan oleh keadaan depresi, kecemasan maupun neurosis

Pembagian lain adalah berdasarkan etiologi :
a. LBP Traumatik
1) LBP pada unsur miofasial
2) LBP akibat trauma pada komponen keras susunan neuromuskuloskeletal
b. LBP akibat proses degeneratif yang mencakup
1) Spondilosis
2) HNP
3) Stenosis spinalis
4) Oesteoartritis 
c. LBP akibat penyakit inflamasi yaitu
1) Artritis rematoid
2) Spondilitis angkilopoetika
3) Spondylitis 
d. LBP akibat gangguan metabolisme, misalnya osteoporosis tulang
e. LBP akibat neoplasma
1) Tumor myelum
2) Retikulosis 
f. LBP akibat kelainan congenital
g. LBP sebagai refered pain
h. LBP akibat gangguan sirkulatorik
i. LBP oleh karena psikoneurotik


3. Patofisiologi
Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang elastic yang tersusun atas banyak unit rigid (vertebrae) dan unit fleksible (discus intervertebralis) yang diikat satu sama lain oleh komplek sendi faset, berbagai ligament dan otot paravertebralis.
 Konstruksi punggung yang unik tersebut memungkinkan fleksibilitas sementara disisi lain tetap dapat memberikan perlindungan yang maksimal terhadap sumsum tulang belakang. Lengkungan tulang belakang akan menyerap goncangan vertical pada saat berlari atau melompat. Batang tubuh membantu menstabilkan tulang belakang. Otot-otot abdominal dan torak sangat penting pada aktivitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan melemahkan struktur pendukung ini. Obesitas, masalah postur, masalah struktur, dan peregangan berlebihan pendukung tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung.
Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua. Pada orang muda diskus terutama tersusun atas fibrokartilago dengan matriks gelatinus. Pada lansia akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tak teratur. Degenerasi diskus merupakan penyebab nyeri punggung yang biasa diskus lumbal bawah, L4-L5 dan L5-S1, menderita stress mekanis paling berat dan perubahan degenerasi terberat. Penonjolan diskus (herniasi nucleus pulposus) atau kerusakan sendi faset dapat mengakibatkan penekanan pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis yang mengakibatkan nyeri yang menyebar sepanjang saraf tersebut. Sekitar 12% orang dengan nyeri punggung bawah  menderita hernia nucleus pulposus ( Brunner & Suddarth, 2002 : 2321 ).

4. Manifestasi Klinis 
Secara praktis manifestasi klinis diambil dari pembagian berdasarkan sistem anatomi :
a. LBP Viscerogenik
Tipe ini sering nyerinya tidak bertambah berat dengan adanya aktivitas maupun istirahat. Umumnya disertai gejala spesifik dari organ viseralnya. Lebih sering disebabkan oleh faktor ginekologik, kadang-kadang didapatkan spasme otot paravertebralis dan perubahan sudut ferguson pada pemeriksaan radiologik, nyeri ini disebut juga nyeri pinggang akibat referred pain.

b. LBP vaskulogenik
Tahap dini nyerinya hanya sakit pinggang saja yang dirasakan, nyeri bersifat nyeri punggung dalam, nyeri sering menjalar kebokong, belakang paha, dan kedua tungkai, nyeri sering menjalar kebokong, belakang paha, dan kedua tungkai.  Nyeri tidak timbul karena adanya stress spesifik pada kolumna vertebralis (membungkuk, batuk dan lain-lain).  Diagnosa ditegakkan apabila ditemukan benjolan yang berpulpasi.

c. LBP Neurogenik 
Nyeri sangat hebat, bersifat menetap, sedikit berkurang pada saat bediri tenang, terutama dirasakan pada saat malam hari. Nyeri dapat dibangkitkan dengan aktivitas, dan rasa nyeri berkurang saat penderita berbaring, sering didapat kompresi akar saraf, ditemukan juga spasme otot paravertebralis.

d. LBP Spondilogenik
Yang sering ditemukan adalah :
1) HNP : Nyeri disertai iskialgia, dirasakan sebagai nyeri pinggang, menjalar kebokong, paha belakang tumit sampai telapan kaki.
2) Miofasial : Nyeri akibat trauma pada otot fasia atau ligamen, keluhan berupa nyeri daerah pinggang, kurang dapat dilokasikan dengan tepat, timbul mendadak waktu melakukan gerakan yang melampau batas kemampuan ototnya.
3) Keganasan : Tumor ganas pada daerah vertebrae dapat bersifat primer atau sekunder. Pada foto rontgen terlihat adanya destruksi, pemeriksaan laboratorium terlihat adanya peningkatan alkalifostase.
4) Osteoporotik : Terjadi pada lansia terutama wanita, nyeri bersifat pegal atau nyeri radikuler karena adanya fraktur kompresi sebagai komplikasi osterporosis tulang belakang.

e. LBP Psikogenik
Keluhan nyeri hebat tidak seimbang dengan kelainan organik yang ditemukan, penderita memilih suatu mekanisme pembelaan terhadap ancaman rasa amannya dengan menghindarkan diri bila tidak melakukan hal tertentu.  Keadaan ini akan menyebabkan otot-otot dalam keadaan tegang sehingga meningkatkan spasme otot dan timbul rasa nyeri.

5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan fisik :
a. Observasi : amati cara berjalan penderita pada waktu masuk ruang periksa, juga cara duduk yang disukainya.  Bila pincang, diseret, kaku (merupakan indikasi untuk pemeriksaan neurologis).  Amati juga apakah perilaku penderita konsisten dengan keluhan nyerinya (kemungkinan kelebihan psikiatrik).
b. Inspeksi : untuk kolumna vertebralis (thoroko-lumbal dan lumbopsakral) berikut deformitasnya, serta gerakan tulang belakang, seperti fleksi kedepan, ekstensi kebelakang, fleksi kelateral kanan dan kiri.
c. Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal sehingga penderita berjalan sangat hati-hati (kemungkinan infeksi, inflamasi, tumor dan fraktur)
d. Palpasi : apakah terdapat nyeri tekan pada tulang belakang atau pada otot-otot disamping tulang belakang? Apakah tekanan dari diantara dua prosessus spinosus menimbulkan rasa nyeri (spurling sign)
e. Perkusi  : perhatikan apakah timbul nyeri jika processus spinosus diketok
Pemeriksaan neurology pada tungkai
a. Sensibilitas (dermatome), motorik (kekuatan), tonus otot, reflek, tropik.
b. Test provokasi (sensorik)
1) Laseque
2) Kering 
3) Bragard dan sicard
4) Patrick (lesi coxae)
5) Kontra Patrik (Lesi Sakroiliakal)
c. Adakah gangguan miksi dan defekasi
d. Adakah tanda-tanda lesi upper motor neuron (UMN) dan lower motor neuron (LMN)
Pemeriksaan Diagnostik
a. Fungsi lumbal : Mengetahui warna cairan serebrospinal (jernih air, kekuningan/xantokram, keruh), adanya kesan sumbatan/hambatan aliran cairan serebrospinal secara total atau parsial, jumlah sel, kadar protein, NaCl dan glukosa.
b. Foto rontgen : Mengidentifikasi adanya fraktur korpus vertebra, arkus atau prosesus spinosus, juga adanya dislokasi vertebra, spionfilolistesis, bamboo spine destruksi vertebra, HNP
c. Electroneuromiografi : Melihat adanya fibrilasi, serta dapat pula dihitung kecepatan hantar saraf dan letensi distal. 
d. Sken tomografi : Dapat melihat gambar vetebra dan jaringan disekitarnya termasuk diskus intervertebralis
(Harsono, 2000:281)
6. Penatalaksanaan medis
a. Tirah baring :
Tempat tidur dengan alat yang keras dan rata untuk mengendorkan otot yang spasme, sehingga terjadi relaksasi otot maksimal. Dibawah lutut diganjal batal untuk mengurangi hiperlordosis lumbal, lama tirah baring tidak lebih dari 1 minggu.
b. Medika mentosa :
Menggunakan obat tunggal atau kombinasi dengan dosis semiminimal mungkin, dapat diberikan analgetik non-steroid, muscle relaxant, tranguilizer, anti depresan atau kadang-kadang obat blokade neuratik.
c. Fisioterapi :
Dalam bentuk terapi panas, stimulasi listrik perifer, traksi pinggul, terapi latihan dan ortesa (kovset)
d. Psikoterapi :
Diberikan pada penderita yang pada pemeriksaan didapat peranan psikopatologi dalam timbulnya persepsi nyeri, pemberian psikoterapi dapat digabungkan dengan relaksasi, hyprosis maupun biofeedback training.
e. Akupuntur :
Kemungkinan bekerja dengan cara pembentukan zat neurohumoral sebagai neurotras mitter dan bekerja sebagai activator serat intibitor desenden yang kemudian menutup gerbang nyeri.
f. Terapi operatic :
Dikerjakan apabila tindakan konservatif tidak memberikan hasil yang nyata, atau kasus fraktur yang langsung mengakibatkan defisit neurologik, ataupun adanya gangguan spinger
g. Latihan :
Latihan perlu dilakukan dengan hati-hati dan terarah agar tidak memperburuk keadaan, dapat dimulai pada hari ke 2 dan ke 3 kecuali jika penyebabnya adalah herniasi diskus.

B. Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan Low Back Pain
1. Pengkajian
a. Aktivitas dan istirahat
1) Gejala : riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan/matras waktu tidur, penurunan rentang gerak dari ekstrimiter pada salah satu bagian tubuh, tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
2) Tanda : Atropi otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam berjalan.
b. Eliminasi 
Gejala : Konstribusi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontenensia/retensi urine
c. Integritas Ego
1) Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga. 
2) Tanda : Tampak cemas, defresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
d. Neurosensori
1) Gejala : Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
2) Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotania, nyeri tekan/spasme pavavertebralis, penurunan persesi nyeri (sensori)
e. Nyeri/kenyamanan
1) Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat defekasi, mengangkat kaki, atau fleksi pada leher, nyeri yang tidak ada hentinya atau adanya episode nyeri yang lebih berat secara interminten; nyeri menjalar ke kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan; kaku pada leher (servikal).  Terdengar   adanya suara “krek” saat nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa “punggung patah”, keterbatasan untuk mobilisasi/membungkuk kedepan
2) Tanda : Sikap: dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena, perubahan cara berjalan: berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena, nyeri pada palpasi.
f. Keamanan
Gejala    : Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi

g. Penyuluhan dan pembelajaran
1) Gejala   :  Gaya hidup ; monoton atau hiperaktif 
2) Pertimbangan   : DRG menunjukan rata-rata perawatan:10,8 hari
3) Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan batuan transportasi, perawatan diri dan penyelesaian tugas-tugas.
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan :
1) Trauma jaringan dan reflek spasme otot
2) Inflamasi
3) Kompresi saraf 
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan
1) Nyeri dan ketidaknyamanan
2) Spasme otot
3) Terapi testriktif
4) Kerusanan neuromuskular
c. Ansietas/koping individu tak efektif berhubungan dengan 
1) Krisis situasi
2) Atasi/ubah status kesehatan, status sosioekonomik, peran fungsi
3) Gangguan berulang dengan nyeri terus menerus
4) Ketidakadekuatan metode koping
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, pragnosis, dan tindakan berhubungan dengan : 
1) Kesalahan informasi/kurang pengetahuan
2) Kesalahan interpretasi informasi kurang mengungat
3) Tidak mengenal sumber-sumber informasi
Prioritas keperawatan
1. Menurunkan stress pada spinal, spasme otot, dan nyeri
2. Meningkatkan berfungsi dengan optimal
3. Memberi dukungan pada pasien/keluarga/orang terdekat dalam proses rehabilitasi
4. Memberikan informasi yang berhubungan dengan penyakit/prignosis dan kebutuhan pengobatannya.

3. Intervensi Keperawatan
Diagnosis I
a. Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus yang memperberat, minta pasien untuk menetapkan pada skala 0–10
b. Pertahankan tirah baring selama fase akut, peletakan pasien pada posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang dengan atau tanpa meninggikan kepala 10-30 derajat atau pada posisi lateral 
c. Gunakan logirdi (papan) selama melakukan perubahan posisi
d. Bantu pemasangan Brace/korset
e. Batas aktivitas selama sesuai kebutuhan
f. Letakkan semua kebutuhan, termasuk bel panggil dalam batas yang mudah dijangkau/diraih oleh pasien.

Diagnosis II
a. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi spesifik
b. Catat respon-respon emosi/perilaku pada imobilisasi berikan aktivitas yang disesuaikan dengan klien
c. Ikuti aktivitas/prosedur dengan periode istirahat, anjurkan pasien untuk tetap berperan serta dalam aktivitas sehari-hari
d. Berikan/bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif 
e. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
f. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti alat bantu jalan, tongkat

Diagnosis III
a. Kaji tingkat ansietas klien, tentukan bagaimana pasien menangani masalahnya di masa yang lalu dan bagaimana pasien melakukan koping dengan masalah sekarang.
b. Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur
c. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalahnya
d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhan
e. Catat perilaku dari orang terdekat/keluarga yang meningkat “peran sakit” pasien.

Diagnosis IV
a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognisis serta pembatasan kegiatan
b. Berikan infomasi tentang berbagai hal dan instruksikan pasien untuk melakukan perubahan “mekanika tubuh” tanpa bantuan dan juga melakukan latihan
c. Diskusikan mengenai pengobatan dan juga efek sampingnya, seperti halnya beberapa obat yang menyebabkan kantuk yang sangat berat (analgetik, relaksasi otot)
d. Diskusikan mengenai kebutuhan diet
e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama
f. Lihat kembali pemakaian kakolar leher yang lunak

4. Evaluasi
Diagnosa I
a. Menghilangkan nyeri hilang/terkontrol
b. Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan
c. Mendemontrasikan penggunaaan intervensi (misalnya keterampilan relaksasi) untuk menghilangkan nyeri.
Diagnosa II
a. Mengungkapkan pemahaman tentang situasi/faktor resiko dan aturan pengobatan individual
b. Mendemontrasikan teknik/perilaku yang mungkin
c. Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit dan/atau kompensasi

Diagnosa III
a. Tampak rileks dan melaporkan anisetas berkurang pada tingkat dapat diatasi
b. Mengidentifikasi ketidakefektifan perilaku koping dan konsekuensinya
c. Mengkaji situasi terbaru dengan akurat
d. Mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalah
e. Mengembangkan rencana untuk perubahan gaya hidup yang perlu

Diagnosis IV
a. Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan tindakan
b. Melakukan kembali perubahan gaya hidup
c. Berpartisipasi dalam aturan tindakan







BAB III
HASIL ASUHAN



A. Gambaran Kasus
Tuan H.T umur 60 tahun, jenis kelamin laki-laki, pendidikan terakhir SMP, pekerjaan swasta, alamat Jl. Pangeran Gang Rahman, status perkawinan sudah kawin, agama Islam, suku Banjar, masuk rumah sakit Islam Banjarmasin pada tanggal 4 Juni 2004 dengan diagnosa medis low back pain (nyeri punggung bawah).

Selama di rumah sakit yang menjadi penanggung jawab klien adalah Tuan R. umur 34 tahun, alamat kompleks Purna Sakti Banjarmasin.

Keluhan utama waktu masuk rumah sakit tanggal 4 Juni 2004 : Nyeri pinggang belakang bagian kiri dari setengah bulan yang lalu dan nyeri pada belikat kanan (skapula). Waktu pengkajian (tanggal 9 Juni 2004) Klien masih mengeluh nyeri pinggang belakang bagian kiri manjalar kekanan.

Riwayat penyakit sekarang± 1 bulan yang lalu klien terjatuh dari kendaraan tapi klien tidak sampai dibawa ke rumah sakit hanya dibawa ketukang pijat dan minum obat yang dibeli di toko untuk mengurangi rasa nyeri.  Setengah bulan kemudian klien mengeluh nyeri pinggang belakang bagian kiri.  Pada tanggal 03-06-2004 klien dibawa keluarganya kepraktek dr. Djohan S, kemudian karena sakit klien semakin parah pada tanggal 05-06-2004 klien dibawa keluarganya ke Rumah Sakit Islam Banjarmasin dan dirawat dikamar 35B di ruang Ibnu Sina.

Riwayat penyakit dahulu± 5 tahun yang lalu klien pernah mengalami hipertensi, DM dan kolesterol tinggi, namun tidak sampai masuk rumah sakit hanya berobat jalan.

Riwayat penyakit keluarga menurut keluarga klien tidak ada keluarga klien yang mengalami penyakit seperti klien atau menderita penyakit DM, hipertensi dan penyakit TBC.

Dari pemeriksaan fisik pada tanggal 09 Juni 2004 diperoleh hasil keadaan umum klien adalah kesadaran compos mentis. GCS 4-5-6, hasil pengukuran tanda-tanda vital : TD : 140/80 mmHg, T :37,2oC, N : 100 x/menit, R : 24 m/menit, BB : 70 kg.  Keadaan klien tampak lemah dan lesu.

Hasil pemeriksaan pada kulit, didapatkan keberhasilan kulit bersih (tidak ada kotoran yang menempel), warna kulit sawo matang, tekstur kulit halus, tidak ada odema.

Kepala leher, struktur kepala tampak simetris, tidak ada nyeri atau trauma kepala, tidak ada lesi, warna rambut hitam beruban, distribusi rambut merata, pada leher tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid atau vena lugularis.

Penglihatan dan mata,  mata klien tampak simetris, tidak ada kotoran atau secret, klien dapat melihat dengan baik bola mata dapat digerakkan kesegala arah.  Klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan, sklera mata tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, mata klien tampak lesu, warna kehitam-hitaman disekitar mata.

Penciuman dan hidung, struktur hidung simetris, tampak bersih tidak ada secret, atau kotoran, tidak ada pendarahan atau epistaksis, tidak ada peradangan atau nyeri hidung, fungsi penciuman baik dapat membedakan bau alkohol dan minyak kayu putih, tidak terdapat massa (polip).

Pendengaran dan telinga, struktur telinga simetris, tampak bersih tidak ada secret atau cairan, tidak ada perdarahan atau peradangan, fungsi pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu pendengaran.

Mulut dan gigi, warna mokusa bibir merah muda, mulut dan lidah besih, tidak ada perdarahan dan lesi, gigi ada yang tunggal, fungsi menguyah baik, tidak menggunakan gigi palsu.

Dada, pernafasan dan sirkulasi, pergerakan rongga dada simetris, bentuk rongga dada simetris antara kiri dan kanan, frekuensi nafas 24 x/menit, irama teratur dan dalam, kadang-kadang batuk, tidak ada sesak nafas, tidak ada nyeri, pernapasan melalui hidung, tidak menggunakan otot bantu pernapasan, tidak terdengar bunyi nafas tambahan, perkusi sonor pada dada.

Abdomen, bentuk abdomen simetris antara kiri dan kanan, distensi abdomen tidak ada, terdengar bising usus 6 x/menit, klien mengalami nyeri punggung belakang dari kiri menjalar kebagian kanan, skala nyeri 4 (berat sekali)  0   1  2 3 4 5   Frekuensi nyeri terus menerus dan tambah parah bila melakukan gerakan, kuantitas nyeri seperti ditusuk-tusuk, ada nyeri tekan pada pinggang bagian kiri.

Genitalia dan reproduksi, tidak ada peradangan pada genetalia bagian luar dan dalam, tidak ada kesulitan saat ereksi dan ejakuasi, tidak terdapat nyeri saat BAK, kebersihan genetalian bersih tidak terdapat lesi, kutu, kemerahan dan ekskoriasi.
Ekstremitas atas dan bawah, struktur ekstrimitas dan kiri dan kanan simetris, struktur ekstrimitas bawah kiri dan kanan simetris, pada ekstrimitas kanan bawah terpasang infus RL 20 tts/menit drif toradol 1 ampul, nyeri pinggang tambah parah bila ekstrimitas bawah digerakkan, skala kekuatan otot.
Keterangan  :
4 = Dapat digerakan melawan gravitasi dengan sedikit tahanan 
      dari pemeriksa
3 = Dapat digerakkan melawan gravitasi tapi tidak dapat menahan 
       tahanan dari pemeriksa

Aktivitas dan istirahat, dirumah klien sehari-harinya hanya istirahat dan tidak bekerja lagi, tidur siang 1-2 jam/hari dan tidur malam 6-8 jam/hari.  Di rumah sakit, klien hanya berbaring ditempat tidur, skala aktivitas 2 (mobilitas fisik dibantu sepenuhnya oleh orang lain). Klien mengeluh tidak bisa tidur karena nyeri pinggang  tidur makan hanya ± 2 jam, klien sering terbangun saat tidur.

Personal hygiene di rumah  klien mandi 2 x 3 x sehari, gosok gigi 2 x sehari, keramas 1 –2 x seminggu, potong kuku bila panjang, ganti pakaian bila kotor.  Di rumah sakit, klien diseka 1 x sehari oleh keluarganya, gosok gigi kadang-kadang, kuku pendek, ganti pakaian bila kotor. 

 Nutrisi,di rumah klien makan 3 x sehari , diet nasi biasa dan lain-lain sesuai selera klien, nafsu makan baik, minum 6 - 8 gelas air putih sehari. Di  rumah sakit, klien makan 3 x sehari kadang-kadang habis satu porsi kadang tidak, nafsu makan ada tapi hilang bila nyeri tambah parah, minum air putih 3-4 gelas sehari, diet BB TKTP.

Eliminasi di rumah klien mengatakan BAB lancar 1-2 x sehari, konsistensi lembek, warna kekuningan, bau busuk. BAB lancar 3-4 x sehari, warna jernih kekuningan bau pesing. Di rumah sakit, BAB 1 x sehari, konsistensi lembek, bau busuk, BAK 2 - 3 x sehari, warna jernih kekuningan, bau pesing.

Seksualitas klien sudah menikah mempunyai 1 orang istri dan 4 orang anak, hubungan klien dengan istri dan anak baik

Psikososial, hubungan klien dengan perawat baik. Klien mau berkomunikasi dengan perawat, hubungan klien dengan keluarga baik, ini terlihat dari isteri dan anak-anak klien selalu menemani dan membantu aktivitas klien, klien tampak tabah menghadapi penyakitnya

Spritual,  klien beragama Islam, dirumah klien selalu rutin sholat 5 waktu, sedangkan di rumah sakit klien juga sholat meski hanya ditempat tidur dan klien selalu berdoa untuk kesembuhannya.

Data Penunjang

Terapi / pengobatan (4 Juni 2004)
- Injeksi Acran 2 x 1 amp
- Myonal 3 x 1 tab
- Lytadex 3 x 1 tab
- Trolip 300 2 x 1
- Dulcolaxtol 3 x CI
- Pronalges 100 1-0-1
- Esilgan 2 mg 0-0-1

Therapi tambahan (9 Juni 2004)
- Inj stesolid/diazepam ½ amp malam
- MST 10 mg 1-0-1
- Fundamine 3 x 1

Hasil pemeriksaan radiologi tanggal 5 Juni 2004
Shoulder joint AP Ext ( 24 x 30)
Hasil : suspect fibro sarcoma

Laboratorium klinik tanggal 4 Juni 2004
a. Kimia darah
- Gula darah puasa : 114,5 mg/dl Normal : 75-115 mg/dl
- Gula darah 2 jam pp : 149    mg/dl Normal : 125 mg/dl
b. Test faal hati
-    SGPT : 18,2 U/L Normal : up to 12 mg/dl
c. Test faal ginjal
- Creatinin : 0,8 mm/dl Normal : 0,6-1,1 mg/dl
- Uric acid : 4,9 mg/dl Normal : 3,4 – 7,0 mg/dl
d. Lemak darah
- Choksterol : 178,6 mg/dl Normal : up to 200 mg/dl
- Triglyserid : 256m5 mg/dl Normal : 60 – 15 mg/dl

Data Fokus
1) Data inspeksi :
a. Klien tampak meringis kesakitan dengan skala 4 (berat sekali)  0 1 2 3 4 5
b. Klien kadang-kadang batuk
c. Tampak garis kehitaman disekitar mata
d. Klien tampak gelisah
e. Frekuensi nafas 24x/menit

2) Palpasi :
a. Terdapat nyeri tekan pada pinggang kiri
b. Denyut nadi 100 x/menit


3) Perkusi : -
4) Auskultasi : -


B. Analisa dan Diagnosa Keperawatan
No Data Masalah Etiologi 
1 2 3 4
1 DO :
- Diagnosa medis dari status low back pain
- Klien tampak meringis kesakitan
- Klien tampak gelisah
- Tanda-tanda vital :
TD : 140/80 mmHg
T    : 37,2oC
N   : 100 x/menit
R   : 24 x/menit
DS :
- Klien mengeluh nyeri pada pinggan kiri menjalar kebagian kanan dengan skala nyeri 4 (berat sekali)
0      1      2      3      4     5
- Kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk
- Frekuensi nyeri terus menerus dan tambah parah bila melakukan gerakan 
Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) Refleksi spasme otot sekunder akibat tekanan susunan saraf tepi daerah pinggang




1
2 3 4
2 DO :
- Klien tampak lemah dan lesu
- Tampak warna kehitam-hitaman di sekitar mata.
- Tanda-tanda vital :
TD : 140/80 mmHg
T    : 37,2oC
N   : 100 x/menit
R   : 24 x/menit
DS :
- Klien mengeluh tidak bisa tidur karena nyeri pinggang bagian kiri menjalar ke kanan dengan skala nyeri 4 (berat sekali)
0      1      2      3      4     5
- Kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk
- Frekuensi nyeri terus menerus dan tambah parah bila melakukan gerakan 
- Klien mengatakan tidur malam paling lama ± 2 jam klien sering terbangun saat tidur
Gangguan pola istirahat dan tidur Nyeri pada pinggang kiri


1
2 3 4
3 DO :
- Klien tampak hanya berbaring ditempat tidur
- Klien tampak meringis kesakitan bila melakukan gerakan klien hanya bisa beraktivitas ditempat tidur dengan di Bantu keluarga dengan skala aktivitas 2 (dibantu sepenuhnya oleh orang lain)
DS :
- Klien mengatakan merasa sangat nyeri bila melakukan gerakan dengan skala nyeri 4(berat sekali)
- Kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk
- Frekuensi nyeri terus menerus dan tambah parah bila melakukan gerakan 
- Kerusakan mobilitas fisik Nyeri sekunder terhadap spasme otot

Prioritas masalah :
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan refleks spasme otot sekunder akibat tekanan susunan syaraftapi daerah pinggang.
2. Gangguan pola istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri pada pinggang kiri 
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri sekunder terhadap spasme otot

Daftar Pustaka :
1.    Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 1, EGC, Jakarta, 2002
2.    Brunner & Suddarth, Alih Bahasa Monica Ester, SKP ; Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 3, EGC, Jakarta, 2002
3.    Ruth F. Craven, EdD, RN, Fundamentals Of Nursing, Edisi II, Lippincot, Philadelphia, 2000
4.    Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Cetakan I, EGC, Jakarta, 1997